Tujuan Dalam Belajar

Tujuan Dalam Belajar - Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar. Mengajar, diartikan sebagai suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan belajar itu sendiri terdiri atau dipengaruhi oleh berbagai komponen yang masing-masing akan saling mempengaruhi komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang memainkan peranan serta dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana prasarana belajar mengajar yang tersedia.

Komponen-komponen sistem lingkungan itu saling mempengaruhi secara bervariasi sehingga setiap peristiwa belajar memiliki profil yang unik dan kompleks. Masing-masing profil sistem lingkungan belajar, diperuntukkan tujuan-tujuan belajar yang berbeda. Dengan kata lain untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus diciptakan sistem lingkungan belajar yang tertentu pula. Tujuan belajar untuk pengembangan nilai afeksi memerlukan penciptaan sistem lingkungan yang berbeda dengan sistem yang dibutuhkan untuk tujuan belajar pengembangan gerak, dan begitu seterusnya.

Simak Sejenak Kumpulan Surat2 Pendek Al Quran

Mengenai tujuan-tujuan belajar itu sebenarnya sangat banyak dan bervariasi. Tujuan-tujuan belajar yang eksplisit di usahakan untuk dicapai dengan tindakan intruksional lazim dinamakan dengan intructional effects, yang biasa berbentuk pengetahuan dan keterampilan, sedang tujuan-tujuan yang lebih merupakan hasil sampingan yaitu : tercapai karena siswa menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu seperti  contohnya, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis, menerima pendapat orang lain. Semua itu lazim diberi istilah Nurturant effects. Jadi, guru dalam mengajar harus sudah memiliki rencana dan menetapkan strategi belajar mengajar untuk mencapai intructional effects, maupun kedua-duanya.

Dari uraian di atas, ditinjau secara umum, maka tujuan belajar itu ada tiga jenis :
1.      Untuk Mendapatkan Pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir, demikian pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki kecenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan belajar. Dalam hal ini peranan guru sebagai  pengajar lebih menonjol.
Adapaun jenis interaksi atau cara yang digunakan untuk kepentingan pada  umumnya dengan model kuliah (presentasi), pemberian tugas, tugas bacaan. Dengan cara demikian anak didik/siswa akan diberikan pengetahuan sehingga menambah pengetahuannya dan sekaligus akan mencarinya sendiri untuk mengembangkan cara berpikir dalam rangka memperkaya pengetahuannya.
     
2.      Penanaman Konsep dan Keterampilan
Penanaman konsep atau merumuskan konsep juga memerlukan suatu keterampilan. Keterampilan yang bersifat jasmani maupun rohani. Keterampilan jasmani adalah keterampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga akan menitik beratkan pada keterampilan gerak/penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar. Termasuk dalam hal ini masalah-masalah “teknik” dan “pengetahuan”. Sedangkann keterampilan rohani lebih rumit, karena tidak selalu berurusan dengan masalah-masalah keterampilan yang dapat dilihat bagaimana ujung pangkalnya, tetapi lebih abstrak, menyangkut persoalan-persoalan penghayatan dan keterampilan berpikir serta kreativitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu masalah atau konsep.
Keterampilan memang dapat dididik, yaitu dengan banyak melatih kemampuan. Demikian juga mengungkapkan perasaan melalui bahasa tulis atau lisan, bukan soal kosa kata atau tata bahasa, semua memerlukan banyak latihan interaksi yang mengarah pada pencapaian keterampilan itu akan memenuhi kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata hanya mengahafal atau meniru.        
3.      Pembentuk Sikap
Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik, tidak akan terlepas dari soal penanaman nilai-nilai, transfer of  values. Oleh karena itu, guru tidak sekedar “pengajar”, tetapi betul-betul sebagai pendidik, yang akan memindahkan nilai-nilai itu, anak didik/siswa akan tumbuh kesadaran dan kemauannya, untuk mempraktekkan segala sesuatu yang sudah dipelajarannya.
Cara berinteraksi atau metode. Metode yang dapat digunakan misalnya dengan diskusi, demonstrasi, sosio drama, Role plying.
Pada intinya, tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental / nilai-nilai pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan hasil belajar relevan dengan uraian mengenai tujuan belajar tersebut, hasil belajar itu meliputi :
a.       Hal ihwal keilmuwan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif)
b.      Hal ihwal personal, kepribadian atau sikap (afektif)
c.       Hal ihwal kelakuan keterampilan atau penampilan (psikomorik)

Ketiga hasil belajar di atas dalam pengajaran merupakan tiga hal yang secara perencanaan dan programatik terpisah, Namun dalam kenyataannya pada diri siswa akan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Ketiganya itu dalam kegiatan belajar-mengajar, masing-masing direncanakan sesuai dengan butir-butir bahan pelajaran (content) karena semua itu bermuara kepada anak didik, maka setelah terjadi proses internalisasi, terbentuklah suatu kepribadian yang utuh. Dan untuk itu semua diperlukan sistem lingkungan yang mendukung. 

Share this article on: