Bab II Makna Perilaku dan Perkembangan Sosial

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Makna Perilaku Dan Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi. Harga Sepeda Polygon
Anak dilahirkan belum bersifat sosial dalam arti dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial serta memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut. Proses bimbingan orang tua ini yang disebut sosialisasi. Harga Satria FU Bekas
-          Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial. Syamsudin mengungkapkan bahwa sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial, sedangkan menurut Loree Sosialisasi merupakan proses dimana individu terutama anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terhadap terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya.
-          Muhibin mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat) yakni peribadi dalam keluarga, budaya, bangsa dan seterusnya.
-          Adapun Hurlock mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai/harapan sosial.

B.  Pentingnya Pengalaman Sosial Anak Usia Dini
Pengalaman sosial pada anak usia dini di dapat dari aktifitas bermain. Aktifitas bermain menyiapkan anak dalam menghadapi pengalaman sosialnya.
Sikap yang dapat dikembangkan melalui bermain, antara lain:
1.      Sikap Sosial
Bermain mendorong anak untuk meninggalkan pola bermain egosentrisnya dalam situasi bermain anak dipaksa untuk mempertimbangkan sudut pandang teman bermainnya sehingga ia menjadi kurang egosentris. 
2.      Belajar Berkomunikasi
Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya, hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik.
3.      Belajar Mengorganisasi
Saat bermain bersama orang lain, anak berkesempatan belajar berorganisasi, bagaimana ia harus melakukan pembagian peran diantara mereka yang turut serta dalam permainan tersebut.
4.      Lebih menghargai orang lain dan perbedaan-perbedaan
Bermain memungkinkan anak mengembangkan kemampuan empatinya
5.      Menghargai kompromi dan harmoni
Lima tingkatan dalam bermain sosial, menurut Patmonodewo ( 1995 )
1.      Bermain Soliter
Anak-anak bermain dalam satu ruangan, mereka tidak saling mengganggu dan tidak saling memperhatikan
2.      Bermain sebagai Penonton / Pengamat
Anak bermain sebagai penonton yang pasif, ia hanya memperhatikan dan mengamati teman-temannya yang sedang bermain
  
3.      Bermain Pararel
Beberapa anak bermain bersama dengan mainan yang sama dalam satu ruangan, namun apa yang dilakukan masing-masing anak tidak saling bergantung dan berhubungan. Masing-masing anak asik bermain, ketika ada anak yang telah menyelesaikan permainannya dan pindah ke area lain, anak yang lain tidak terpengaruh.
4.      Bermain Asosiatif 
Adalah permainan yang melibatkan beberapa orang anak, namun belum terorganisasi.
5.      Bermain Kooperatif
Dilakukan secara berkelompok, masing anka-anak memilki peran untuk mencapai tujuan permainan. Misalnya, menirukan kegiatan di pasar.

C.  Pola Perkembangan Sosial
            Perkembangan sosial individu mengikutisuatu pola, yaitu urutan prilaku sosial yang teratur, dimana pola tersebut samam untuk setiap anak secara normal. Pada dasarnya semua anak menempuh tahapan sosialisasi. Kurangnya kesempatan anak untuk bergaul secara baikdengan orang lain dapat menghambat perkembangan sosialnya.
1.      Karakteristik dan ciri tingkahlaku sosial.
a.       Periode Bayi
1-2 bulan
belum mampu membedakan objek dan benda
3 bulan
·         otot mata sudah kuat dan mampu melihat pada orang/objek dan mengikuti
·         gerakan telinga sudah mampu membedakan suara
·         senyum sosial bila orang yang dikenalnya datang dan menangis bila ditinggal
4 bulan
Memperlihatkan tingkah laku, memperatikan bila ada orang yang bicara, membuat penyesuaian dengan tertawa padanya
4-6 bulan
Tersenyum dengan bayi lain
5-6 bulan
Bereaksi berbeda terhadap suara ramah dan tidak
7 bulan
Kadang-kadang agresif, menjambak, mencakar
6-8 bulan
Memegang, melihat, merebut benda dari bayi lain
7-9 bulan
Mengikuti suara, tingkah laku yang sederhana
9-13 bulan
Meniru suara, bisa bermain dengan permainan tanpa komunikasi
12 bulan
Mengenal larangan
13-18 bulan
Mulai minat terhadap bayi lain
15 bulan
Memperlihatkan minat terhadap orang dewasa
24 bulan
Dapat membantu melakuakn aktivitas sederhana, menggunakan permainan sebagai alat untuk hubungan sosial.

b.      Periode prasekolah
Ciri sosialisasi periode sekolah
·         Membuat kontak sosial dengan orang diluar rumahnya
·         Mulai belajar menyesuaikan diri dengan harapan linkungan sosial
·         Selalu berusaha untuk berkomunikasi dan menarik perhatian orang dewasa.
·         Hubungan teman sebaya
·         3-4 tahun mulai bermain bersama
c.       Periode Usia Sekolah
·         Minat terhadap kelompok makin besar
·         Mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga
Snowman dalam Patmonodewo (1995 : 29) mengemukakan beberapa karakteristik perilaku sosial pada anak usia prasekolah:
1.      Umumnya memiliki satu/dua sahabat tetapi cepat berganti
2.      Kelompok bermainnya cenderung kelompok kecil
3.      Anak yang lebih kecil mengamati anak yang lebih besar
4.      pola bermain anak prasekolah lebih bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas sosial dan gender.
5.      Perselisihan sering terjadi, tetapi mereka cepat berbaikan kembali.
6.      Setelah masuk TK, umumnya kesadaran mereka terhadap peran jenis kelamin telah berkembang.
Sementara itu Hurlock (1978) mengemukakan pola perilaku dalam situasi sosial pada awal masa kanak-kanak adalah sebagai berikut:
1.       Kerjasama, anak bekerjasama hingga usia 4 tahun. Semakin banyak kesempatan untuk melatih keterampilan ini, semakin cepat mereka belajar dan menerapkannya secara nyata dalam kehidupannya.
2.       Persaingan, dapat mengakibatkan perilaku baik atau buruk pada anak
3.       Kemurahan hati, sifat ini sangat disukai oleh lingkungan sehingga menghasilkan penerimaan sosial yang baik.
4.       Hasrat akan penerimaan sosial, jika hasratnya kuat akan penerimaan sosial, maka akan mendorong anak untuk untuk melakukan penyesuaian sosial secara baik.
5.       Simpati, mereka mengekspresikannya dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang sedih.
6.       Empati, kemampuan meletakan diri sendiri pada posisi orang lain.
7.       Ketergantungan, anak masih memerlukan bantuan, perhatian dan dukungan orang lain.
8.       Sikap ramah, anak menunjukan kasih sayang
9.       Meniru
10.   Perilaku kelekatan

D.  Perkembangan Sosial Anak Usia Dini
Perkembangan sosial anak usia dini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa dan teman sebayanya.
Menurut Suenn Robinson Ambron proses sosialisasi merupakan proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.
Menurut J. Clausan mendeskrifsikan tentang upaya yang dilakukan orang tua dalam rangka sosialisasi dan perkembangan sosial yang dicapai anak.
1)      Pembangkangan (negativisme) yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan, tingkah laku  ini mulai muncul pada kira-kira usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun. Perkembangan anak yaitu bahwa secara naluriah anak itu mempunyai dorongan untuk berkembang dari posisi “devendent” (ketergantungan) ke posisi “Independent” (bersikap mandiri).
2)      Agresi (agression) yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (non verbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi ini merupakan salahs atu reaksi terhadap ferustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi keinginannya) yang dialaminya.  
3)      Berselisih/bertengkar (Quarreling) terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung/terganggu oleh sikap dan perilku orang lain seperti diganggu pada saat mengerjakans sesuatu / direbut barang mainannya.
4)      Menggoda (teasing) yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif. Menggoda merupakan serangan mental tehadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya.
5)      Persaingan (rivarly) yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong (stimulasi) oleh orang lain.
6)      Kerjasama (cooperation) yaitu sikap mau bekerjasama dengan kelompok
7)      Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior) yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi/bersikap “bossiness” contoh: meminta, menyuruh, mengancam orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
8)      Mementingkan diri sendiri (selfishness) yaitu sikap egosentrisme dalam memenuhi interest (keinginannya)
9)      Simpati (sympaty) yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati/bekerjasama dengannya.
Pembiasaan sejak dini bagi anak dalam menerapkan norma-norma baik agama maupun tatakrama sangat penting agar anak tidak menampilkan perilaku maladjusment, seperti:
-          Bersifat minder
-          Senang mendominasi orang lain
-          Bersifat egois
-          Senang mengisolasi diri/menyendiri
-          Kurang memiliki perasaan, tanggung rasa
-          Kurang memiliki perasaan, tenggang rasa
-          Kurang memperdulikan norma dalam perilaku.
Dasar untuk sosialisasi diletakan dengan meningkatnya, hubungan anak dengan teman-teman sebaya, anak tidak hanya banyak bermain tetapi juga lebih banyak berbicara dengan anak-anak lain.
Selama masa awal kanak-kanak, anak-anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara, hal ini disebabkan karena dua hal, pertama belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi. Kedua, belajar berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian misalnya; mau kencing, mau buang air besar, mau menyisir diri sendiri dan lain-lain.
(Perkembangan sosial anak usia dini)
1.      Antara usia dua dan tiga tahun, anak menunjukan minat yang nyata untuk melihat anak-anak lain dan berusaha mengadakan kontak sosial dan berusaha mengadakan kontak sosial dengan mereka yang disebut dengan bermain sejajar.
2.      Bermain asosiatif adalah perkembangan dimana anak terlibat dalam kegiatan yang menyerupai kegiatan anak-anak lain (meniru)
3.      Bermain kooperatif adalah dimana anak menjadi anggota kelompok dan saling berinteraksi.          
    
   
E.  Hal-Hal Yang Rentan Dalam Perkembangan Sosial
Hal-hal yang dapat menghambat perkembangan sosial anak prasekolah yaitu:
1.      Tingkah laku agresif
Tingkah laku agresif biasanya mulai tampak sejak usia 2 tahun, tetapi sampai usia 4 tahun tingkah laku ini masih sering muncul misalnya mendorong, memukul / berkelahi, mencaci, mengejek / memperolok teman lain.
Tingkah laku agresif selain mengganggu hubungan sosial juga melanggar aturan yang diberlakukan disekal.
a.       Daya Suai kurang
Daya suai kurang biasanya disebabkan karena cakrawala sosial anak yang relatif masih kurang di sekolah pun biasanya mereka belum bisa dengan cepat menyesuaikan diri, tetapi makin lama ia di sekolah makin bertambah daya suainya. Apabila ada anak yang tidak dapat menyesuaikan diri walaupun relatif lama bersekolah. guru harus dapat mencari faktor penyebabnya karena bila hal itu tidak diperhatikan akan menyebabkan anak tersebut tersaing dan tidak dapat mengikuti kegiatan (pembelajaran) yang bersifat kelompok.
b.      Pemalu
Rasa malu sebenarnya normal dan wajar, tetapi bila anak seringkali menunjukan rasa malu maka hal inilah yang dianggap sebagai masalah anak biasanya tidak menunjukan rasa malu pada orang yang sudah dikenalnya, tetapi pada orang yang sudah dikenalnya, tetapi pada orang yang belum dikenalnya akan bersikap pemalu pada umur 5 tahun perasaan malu yang berlebihan tidak hanya ditunjukan pada orang yang tidak dikenal, tetapi juga pada orang yang sudah dikenal yaitu orang yang akan memberikan penilaian terhadap tingkah lakunya. Anak selalu cemas dan takut pada reaksi orang lain terhadap perbuatan / tingkah lakunya. Biasanya hal ini terjadi pada anak yang sering dipermalukan atau di depan orang lain. Kejadian-kejadian semacam ini akan menyebabkan anak dimasa mendatang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
c.       Anak Manja
Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah pada anaknya, membatalkan perintah atau larangannya hanya karena anak menjerit, menentang atau membantah, contohnya seorang ayah melarang anaknya pergi. Larangan itu membuat anaknya menangis atau merengek dengan tujuan supaya di perbolehkan pergi. Tingkah laku anak tersebut disebut manja, dan sikap orang tua yang tidak konsisten dengan perintahnya hanya karena anak menangis atau merengek termasuk memanjakan anak.
d.      Perilaku berkuasa
Perilaku berkuasa ini mulai muncul sekitar usia 3 tahun dan semakin meningkat dengan bertambahnya kesempatan. Anak perempuan cenderung merasa lebih berkuasa dari pada anak laki-laki. Oleh karena itu anak harus diberi pengertian bahwa ia mempunyai kedudukan yang sama dengan temannya. Tidak ada yang mempunyai hak yang lebih dibandingkan dengan yang lain agar sikap ingin merajai ini sedikit demi sedikit berkurang.
e.       Perilaku merusak
Ledakan amarah yang dilakukan oleh anak sering disertai tindakan merusak benda-benda disekitarnya, tidak peduli miliknya sendiri atau milik orang lain. Semakin hebat marahnya semakin luas tindakan merusaknya contoh seorang anak tidak diperbolehkan ikut pergi dengan orang tuanya tiba-tiba mengambil barang milik orang tuanya dan merusaknya.


F. Penyesuaian Dan Penerimaan Sosial Dalam Anak Usia Dini (Peran Teman, Pergantian Teman, Pimpinan Dan Pengikut, Mobilitas Penyesuaian)
Salah satu perkembangan sosial yang dialami anak adalah proses penerimaan sosial, pengalaman ini akan membekali anak dalam melakukan penyesuaian diri dilingkungan sosialnya fungsi teman sangat penting dalam pengembangan keterampilan ini. Menurut Hetherington (1987) fungsi teman ini diantaranya adalah membantu anak belajar mematuhi aturan-aturan melalui bermain, menjadi sumber informasi, teman berfungsi sebagai pendorong prilaku positif atau negatif bagi anak.
Berkenaan dengan penerimaan sosial ini Hurlock (1991) mengemukakan beberapa tahapan (stage) dalam penerimaan oleh kelompok teman sebaya, adalah sebagai berikut:
1.      A Reward – Cost Stage
Pada stage ini ditandai dengan adanya harapan yang sama, aktivitas yang sama dan kedekatan, biasanya pada anak kelas 2 & 3 tetapi belum mendalam
2.      A Normative Stage
Pada stage ini ditandai oleh dimilikinya nilai yang sama, sikap terhadap aturan dan sanksi yang diberikan biasanya terjadi pada anak kelas 4 dan 5.
3.      An Emfihatic Stage
Pada stage ini dimilikinya pengertian, pembagian minat, self diselosure adanya kedekatan yang mulai mendalam, biasanya di atas kelas 6.
Pengetahuan sosial awal diluar rumah melengkapi pengalaman di dalam rumah dan merupakan penentu yang paling penting bagi sikap sosial dalam pola perilaku anak. Jika hubungan mereka dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar rumah menyenangkan, mereka akan menikmati hubungan sosial tersebut dengan ingin mengulanginya.
Hasrat terhadap pengakuan dan penerimaan sosial sangat kuat pada akhir masa kanak-kanak, pengaruh kelompok teman sebaya lebih kuat dibandingkan dengan sewaktu masa prasekolah. Yaitu ketika anak masih kecil dan kurang berminat bermain dengan teman sebaya. Jika anak mempunyai teman yang lebih tua ia akan berusaha untuk tidak ketinggalan dari temannya sehingga ia akan mengembangkan pola prilaku yang lebih matang dibandingkan dengan teman sebayanya. Akan tetapi jika teman yang lebih tua suka memerintah sehingga si anak tidak dapat menikmati permainan. Ia mungkin akan memilih dengan anak yang muda dan memerintah temannya itu. Seperti yang dilakukan anak yang lebih tua terhadapnya. Hal ini akan menimbulkan pola perilaku yang tidak sosial jika anak mempunyai teman bermain dan saudara-saudara yang sejenis, ia akan mengalami kesulitan melakukan penyesuaian sosial yang baik dengan teman bermain dan lawan jenis.
Di dalam melatih keterampilan sosial jangan pernah mendorong anak untuk bersosialisasi pada saat ia belum siap melakukannya. Pemberian motivasi secara perlahan akan sangat membantu anak, sebaliknya bila ada pemaksaan pada saat anak belum siap maka akan membuat anak menarik diri dari lingkungan sosialnya.
Hubungan sosial dengan teman sebaya sangat meningkat pada usia anak prasekolah. Masa prasekolah adalah saat dimana bermain merupakan tema utama  dalam kehidupan anak.
Salah satu fungsi terpenting dari teman sebaya adalah sebagai sumber informasi dan bahan pembanding diluar lingkungan keluarga melalui teman sebaya anak memperoleh umpan balik tentang kemampuan yang dimilikinya.

G.  Hal-Hal Yang Rentan Dalam Penyesuaian Sosial
Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat diperlukan tiga proses sosialisasi yang dikemukakan oleh Hurlock (1978) yaitu sebagai berikut:
1.      Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat.
2.      Belajar memainkan peran sosial yang  ada dimasyarakat
3.      Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada dimasyarakat.
Berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan berbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu:
*   Kelompok Individu sosial
-     Mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisi
      Mereka mampu untuk mengikuti kelompok yang diinginkan diterima sebagai anggota kelompok, adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan mereka kesepian bila berada seorang diri dan mereka puas dan bahagia jika selalu berada orang lain.
*   Kelompok individu
-     Orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan.
Perkembangan sosial terdapat istilah individu yaitu:
a.       Introvert
Kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya, minat, sikap ataupun keputusan yang diambil didadasarkan pada perasaan, pemikiran dan pengalamannya sendiri.
Orang-orang dengan kecenderungan introvert biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri.
b.      Extrovert
Kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dirinya sehingga segala minat, sikap dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa  yang terjadi diluar dirinya. Orang extrovert biasanya cenderung aktif, suka berteman dan ramah tamah.
Seorang ahli mengatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe dari reaksi yang ditunjukan seseorang. Jika seseorang menunjukan reaksi yang terus menerus itu sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap sebagai tipe kpribadiannya.


H. Implementasi Konsep Perkembangan Dan Penyesuaian Sosial Dalam Pembelajaran Di TK
Implementasi konsep perkembangan sosial anak di TK dapat dilakukan melalui cara:
1.       Keterampilan bercakap-cakap / komunikasi
2.       Menumbuhkan sense of Humor
3.       Menjalin pesahabatan
4.       Berperan serta dalam satu kelompok
5.       Memiliki tatakrama
Selain itu dapat pula dilakukan persiapan dirumah oleh orang tua melalui:
Latihan sosial (social training)
Latihan sosial yang dikemukakan oleh Reynold (1987) adalah para orang tua diharapkan dapat memberikan latar belakang kehidupan sosial yang aman dan penuh cinta bagi anak. Selain itu juga diharapkan dapat meningkatkan kemandirian anak sesuai dengan kesiapan anak itu sendiri dan menjadikan dirinya teladan yang baik bagi anak.
Latihan selanjutnya yaitu memberikan kesempatan pada anak untuk bergabung dengan keluarganya, orang asing atau teman-teman sebayanya juga melatih anak untuk sadar perlunya bersikap baik dan penuh perhatian terhadap orang lain. Selain itu juga untuk melatih anak agar meningkatkan keterampilannya dalam berbagi barang-barang miliknya ataupun perasaan kepemilikan bersama sehingga ia akan rela menunggu untuk mendapat giliran dan perhatian dari orang tua atau gurunya dan hal yang perlu diingat dalam melatih keterampilan sosial jangan pernah mendorong anak untuk bersosialisasi pada saat ia belum siap melakukannya.
Adapun materi pembelajaran pengembangan sosial di Taman Kanak-Kanak:
1.      Empati
Yaitu kesempatan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain untuk mengerti pandangan dan perasaan orang tersebut, atau untuk mengalami seperti apa yang dialami oleh orang tersebut Empati sebagai fenomena orang dewasa bukan hanya sekedar peniruan tingkah laku, tetapi membutuhkan kemampuan kognitif, yaitu satu kemampuan yang cukup tinggi untuk meninjau permasalahan dari sudut pandang orang lain.
2.      Afiliasi
Yaitu kebutuhan untuk bersama orang lain karena orang yang kebutuhan afriliasinya tinggi terdorong untuk membentuk persahabatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk berafiliasi ternyata berhubungan dengan rasa takut (smhachter, 1959) oleh karena itu, anak akan merasa aman bila ada orang lain didekatnya.
3.      Ventifikasi
Yaitu pengaruh sosial pada seseorang yang didasarkan pada keinginan orang tersebut menjadi individu lain yang dikaguminya. Pada masa ini tokoh ventifikasi sebagai sumber dari proses mempelajari perilaku moral, menjadi sangat penting karena hal ini bisa mengisi jarak dan meletakan dasar yang penting bagi perkembangan moral anak.
4.      Self Acceptance
Yaitu sikap menerima diri sendiri, suatu sikap yang erat kaitannya dengan kemampuan seorang anak dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial anak-anak yang memiliki Self Acceptance bersikap menerima dirinya sebagaimana mereka menerima teman-teman yang mereka sukai. Semakin orang lain menyukai atau menerima mereka semakin baiklah anak-anak menyukai dirinya sendiri dan semakin besar pula Self Acceptance mereka.
5.      Sosial Acceptance
Yaitu terpilihnya seseorang atau seorang anak untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu Sosial Acceptance akan mendorong setiap anak untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diterima oleh lingkungannya.
6.      Penyesuaian diri
Yaitu istilah yang menunjukan taraf fungsi kepribadian individu dalam lingkungannya atau keefektifan individu dalam memenuhi kebutuhan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Biasanya ia tidak mudah putus asa dalam mencapai tujuan, namun bila  ia sadar bahwa tujuannya itu tak relistis ia bersedia mengganti tujuan yang sesuai dengan kepastian.
7.      Disiplin
Yaitu cara masyarakat mengajarkan tingkahlaku moral pada anak, yaitu tingkah laku yang dapat diterima oleh kelompoknya. Tujuannya adalah membentuk tingkah laku:
a.       Rasa aman karena anak tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak
b.      Menolong anak dari perasaan bersalah dan malu yang berkepanjangan karena bertingkah laku buruk
c.       Melalui disiplin anak belajar untuk bertingkah laku yang menimbulkan pujian
d.      Disiplin meningkatkan motivasi anak untuk mencapai apa yang diharapkan orang lain untuk dirinya
e.       Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani dan membantunya dalam membuat keputusan dan mengendalikan tingkah laku
Beberapa element penting yang berkenaan dengan pelaksanaan latihan disiplin
1.      Aturan                                                3.  Ganjaran
2.      Hukuman                                4.  Konsisten
8.      Tanggung jawab
Merupakan wujud dari konsekuensi suatu pilihan atau keputusan. Perilaku ini harus dipupuk sejak dini sehingga anak dapat tumbuh menjadi individu yang matang, dewasa bertanggung jawab.
Metode pengembangan sosial di Taman Kanak-kanak
Terdapat beberapa metode pengembangan sosial yang dapat dilakukan antara lain:
1.      Pengelompokan anak melalui pengelompokan, anak akan saling mengenali, berinteraksi secara intensif dengan anak lain. Anak akan menemukan teman-teman yang cocok dan kurang cocok.
2.      Modelling dan Imitating
Imitasi adalah peniruan sikap, tingkah laku serta cara pandang orang lain yang dilakukan secara disengaja. Jadi prosesnya berbeda dengan proses vertifikasi yang berlangsung tanpa disadari.
Proses peniruan ini sangat wajar pada anak bahkan mungkin terjadi dimasa dewasa, objek yang ditiru harus memenuhi syarat yang antara lain:
a.       Tingkah laku yang ditiru merupakan tingkah laku yang mendapat penguatan yaitu mendapat respons positif atau negatif dari lingkungannya.
b.      Umumnya anak meniru tingkah laku orang dewasa ketimbang tingkah laku anak sebayanya.
c.       Model mempunyai status yang lebih tinggi.
3.      Bermain kooperatif
Yaitu permainan yang melibatkan sekelompok anak dimana setiap anak mendapatkan peran dan tugas masing-masing yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama.
Permainan kooperatif ini mengajarkan anak bersikap sportif dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.
4.      Belajar berbagi (sharing)
Melalui sharing anak akan terlatih untuk membaca situasi lingkungan, belajar berempati terhadap kebutuhan anak lain, belajar bermurah hati, melatih besikap lebih sosial, serta bertahap meninggalkan prilaku egosentrisnya.

Share this article on: