BAB I Skripsi Keterampilan Menulis Puisi

A.           Latar Belakang
            Perkembangan arus informasi tertulis bagi anak-anak pada saat ini demikian pesat. Hal ini ditandai dengan banyaknya karya anak yang dimuat pada beberapa media masa, baik media masa untuk umum maupun media tulis khusus untuk anak. Sedangkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang membahas hal tersebut belum banyak dilakukan. Hal ini mendorong keinginan penulis untuk mencoba menggali, mencari model, dan menerapkannya dalam pembelajaran bahasa di Sekolah Dasar tempat penulis bekerja. Satria FU Bekas
Pada rumusan standar kompetensi menulis menurut Kurikulum 2004 ada rumusan seperti berikut:
 “Mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan melalui menyusun karangan, menulis surat pribadi, meringkas isi buku bacaan, membuat poster, dan menulis catatan dalam buku harian menulis kartu pos serta menulis prosa sederhana dan puisi”(Depdiknas, 2003 : 17).

Rumusan tersebut mengandung makna, bahwa siswa perlu memiliki keterampilan menggunakan bahasa tulis. Keterampilan para siswa dalam menggunakan bahasa tulis perlu secara dini dan kontinu dilatih, diajarkan, dibimbing, serta diarahkan  melalui suatu proses pembelajaran yang terprogram. Harga Besi
            Kegiatan pembelajaran yang terfokus pada peningkatan keterampilan menulis bukan merupakan suatu pekerjaan mudah. Pelaksanaannya, guru kelas V sering menghadapi kendala. Kendala itu meliputi beberapa hal yang erat berkaitan dengan siswa, seperti latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, tingkat kematangan, kesehatan jasmani, kematangan sosial dan kebebasan, perkembangan emosional, kecerdasan, keberanian, keuletan, serta integrasi persyaratan psikomotorik, yaitu adanya koordinasi antara mata, telinga, tangan, jari-jemari, dan psikomotor lainnya(Depdikbud, 1992 : 12).
            Kendala lain adalah dari guru kelas V itu sendiri, seperti latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, sikap profesionalisme, kemauan, kesabaran, ketabahan, keuletan, dan kinerja guru.
            Cara mengajarkan menulis lanjutan yang sekarang banyak dilakukan oleh guru kelas V SD, masih menimbulkan kesan bahwa mengikuti pembelajaran menulis merupakan kegiatan “membosankan”. Siswa selalu ditugasi untuk mencatat, menulis ringkasan, membuat rangkuman, mengarang, menulis tegak bersambung, dan sejenisnya. Akhirnya, jangankan siswa terampil, mampu, rajin, dan rapi menulis; untuk mengikuti pembelajaran menulis pun menjadi enggan. Jika hal seperti itu terus dialami para siswa, secara tidak langsung guru telah membunuh minat tulis siswa. Sungguh suatu hal yang memprihatinkan, padahal keterampilan menulis merupakan salah satu modal dasar bagi siswa dalam belajar. Sepeda Polygon
            Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa keterampilan menulis siswa SD umumnya masih lemah. Lemahnya keterampilan menulis berdampak tidak baik terhadap kegiatan siswa dalam mengikuti mata palajaran lain, sebab setiap mata pelajaran yang diajarkan memerlukan dukungan keterampilan menulis yang prima. Bahkan hampir dapat dipastikan akibat lemahnya keterampilan menulis akan berpengaruh terhadap aktivitas siswa dalam mengikuti pendidikan pada jenjang berikutnya.
            Pengalaman penulis selama mengajar di kelas V, benar adanya bahwa aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran menulis itu kurang optimal. Tidak saja pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga pada mata pelajaran lain pun demikian. Metode yang dipilih dan digunakan oleh guru belum mampu memotivasi siswa untuk belajar secara optimal. Guru sering terjebak dengan kebiasaan lama yaitu duduk, catat, hapal. Dalam pemilihan dan penggunaan metode mengajar guru masih jarang memperhitungkan pentingnya memerdekakan pemikiran dan jiwa siswa. Meraka(siswa) hanya disajikan pembelajaran di dalam kelas, terkurung oleh empat sudut dinding kelas. Bukan hal yang mustahil jika sewaktu pembelajaran itu berlangsung, jiwa mereka pergi meninggalkan ruangan kelas.
            Upaya-upaya inovatif untuk mengatasi permasalahan pada pembelajaran menulis di SD belum banyak dilakukan; padahal keperluan untuk hal itu sangat strategis dan mendesak. Penggunaan objek kontekstual lingkungan sekolah belum banyak digunakan. Padahal secara teoretis objek tersebut memiliki banyak keunggulan.
            Permasalahan dalam pengajaran menulis puisi di kelas V SDN Datarkihiang yang dilaksanakan dengan menggunakan objek kontekstual lingkungan sekolah, masih belum menunjukkan keterampilan yang memadai. Pada pelaksanaan tes awal(pratindakan) siswa yang mendapat nilai 6,0 masih di bawah 50%. Dari pencermatan penulis terhadap profil keterampilan siswa dalam menulis puisi, pada umumnya masih lemah. Berpijak dari kondisi seperti itu, penulis terpanggil untuk memenuhi tuntutan pembelajaran menulis puisi yang semestinya. Inti persoalannya yaitu; apa, bagaimana, dan dari mana penulis mulai melakukannya?
      Dalam kaji tindak pembelajaran menulis puisi, penulis tertarik untuk mencoba mengoptimalkan keunggulan objek kontekstual lingkungan sekolah. Pembelajaran menulis puisi dikemas secara tematik dengan harapan agar dapat membuka wawasan siswa, memperkaya gagasan, dan menumbuhkembangkan rasa percaya diri. Bertolak dari pemikiran di atas, penulis merumuskan topik Penelitian yaitu “Penggunaan Objek Kontekstual Lingkungan Sekolah untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi” (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V di SDN Datarkihiang).

Share this article on: